Rabu, 15 April 2015

Berbagai Masalah di Dalam Kelas

A.    Masalah dalam pengelolaan kelas
Masalah pengelolaan kelas menurut M. Entang dan T. Raka Joni (1983:12) dikelompokkkan menjadi dua kategori yaitu:
Masalah ibdividual dan masalah kelompok. Pengelolaan kelas yang dilakukan guru akan efektif  apabila ia dapat mengidentifikasi dengan tepat hakekat masalah yang sedang dihadapi, sehingga pada gilirannya ia dapat memilih straegi penanggulangan yang tepat pula.
Masalah individu muncul karena salam individu ada kebutuhan ingin diterima kelompok dan ingin mencapai harga diri. Apabila kebutuhan-kebutuhan itu tidak dapat lagi dipenuhi melalui cara-vara yang lumrah yang dapat diterima masyarakat kelas, maka individu yang bersangkutan akan berusaha mencapainya dengan cara-cara lain. Dengan perkataan lain, individu itu akan berbuat tidak baik. Perbuatan-perbuatan untuk mencapai tujuan dengan cara yang tidak baik itu oleh Rodolf Drekuirs dan Pearl Cassel yang dikutip oleh M. Entang dan T. Raka Joni digolongkan menjadi empat yaitu:
1.      Tingkah laku yang ingin mendapat perhatian orang lain (attention getting behaviors), misalnya membadut dikelas atau berbuat lamban sehinnga perlu mendapatkan pertolongan ekstra
2.      Tingkah laku yang ingin menunjukkan kekuatan (power seeking behaviors), misalnya selalu mendebat, kehilangan kendali emosional (marah-marah, menangis) atau selalu lupa pada aturan-aturan penting di kelas.
3.      Tingkah laku yang bertujuan menyakiti orang lain (revenge seeking behaviors), misalnya menyakiti orang lain dengan mengata-ngatai, memeukul, menggigit dan sebagainya.
4.      Peragaan ketidak mampuan (passive bahaviors), yaitu sama sekali menolak atau mencoba melakukan apapun karena menganggap bahwa apapun yang dilakukannnya akan mengalami kegagalan.
Sebagai penduga Drekuirs dan Pearl Cassel menyarankan penyikapan sebagai berikut:
a.       Apabila seorang guru mersa terganggu oleh perbuatan siswa, maka kemungkinan siswa tersebut ada pada tahap attention getting (minta perhatian)
b.      Apabila guru merasa dikalahkan atau terancam oleh perbuatan siswa, kemungkinan siswa tersebut ada pada power seeking (ingin mengejar kekuasaan)
c.       Jika guru merasa tersinggung atau terluka hati oleh perbuatan siswa, kemungkinan siswa tersebut ada pada tahap revenge seeking (ingin membalas dendam)
d.      Jika guru merasa benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa lagi dalam menghadapi ulah siswa, maka kemungkinan siswa ingin menunjukkan ketidak mampuan
Dari empat cara/tindakan yang dilakukan individu tersebut mengakibatakan terbentuknya empat pola tingkah laku yang sering nampak pada anak usia sekolah (Maman Rahman: 1998) yaitu:
1.      Pola aktif konstruktif yaitu pola tingakah laku yang ekstrim, ambisius untuk menjadi super star di kelasnya dalam mempunyai daya usaha untuk membantu guru dengan penuh vitalitas dan sepenuh hati
2.      Pola aktif destruktif yaitu pola tingakah laku yang diwujudkan dalam bentuk membuat banyolan, suka marah, kasar dan memberontak
3.      Pola pasif konstruktif yaitu pola yang menunjukkan kepada satu bentuk tingakah laku yang lamban dengan maksud supaya selalu dibantu dan mengharapkan perhatian
4.      Pola pasif destruktif yaitu pola tingkah laku yang menunjukkan kemalasan (sifat pemalas) dan keras kepala
Sedangkan masalah kelompok, menurut Lois V. Jhonson dan Mary A. Bany mengemukakan tujuh kategori masalah kelompok dalam pengelolaan kelas, yaitu:
1.      Kelas kurang kohesif, karena alasan jenis kelamin, suku, tingkah laku sosio-ekonomi dan sebagainya
2.      Kelas mereaksi negatif terhadap salah seorang anggotanya, misalnya mengejek teman kelasnya yang menyanyi dengan suara sumbang
3.      Penyimpangan dari norma-norma tingkah laku yang telah disepakati sebelumnya, misalnya segaja berbicara keras-keras di ruang baca perpustakaan
4.      Membesarkan hati anggota kelas yang justru melanggar norma kelompok, misalnya, pemberian semangat kepada badut kelas
5.      Kelomok cenderung mudah dialihkan perhatiannya dari tugas yang tengah digarap.
6.      Semangat kerja rendah, misalnya semacam aksi protes kepada guru karena menganggap tugas yang diberikan kurang adil
7.      Kelas kurang menyesuaikan diri dengan keadaan baru, seperti perubahan jadwal, atau guru kelas terpaksa diganti sementara oleh guru yang lain
Dari dua macam masalah tersebut (masalah individu dan masalah kelompok), setiap macam masalah memerlukan penanganan yang berbeda. Selanjutnya, sasaran penanganan masalah individual adalah individu yang bersangkutan. Sebaliknya di dalam masalah kelompok maka tindakan korektif harus ditujukan kepada kelompok. Diagnosis yang keliru akan mengakibatkan terjadinya tindakan korektif yang keliru pula
B.     Upaya pencegahan
Tindakan yang bersifat pencegahan (preventif) yaitu dengan jalan menyediakan kondidsi baik fisik maupun kondisi sosio emosional sehingga terasa benar oleh siswa rasa kenyamanan dan keamanan untuk belajar. Sedangaka tindakan yang bersifat korektif merupakan tundakan terhadap timgkah laku yang menyimpang dan merusak kondisi optimal bagi proses belajar mengajar yang sedang berlangsung. Tindakan yang bersifat korektif dibagi dua, yaitu:
Tindakan yang seharusnya segera diambil guru pada saat terjadi gangguan (dimensi tindakan). Dan penyembuhan (kuratif) terhadap tingkah laku yang menyimpang dan terlanjur terjadi agar penyimpangan tersebut tidak berlarut-larut.
1.      Usaha yang bersifat pencegahan
Adapun langkah-langkah pencegahannya (Maman Rahman : 1998) sebagai berikut:
a.       Peningkatan kesadaran diri sebagai guru
b.      Peningkatan kesadaran peserta didik
1)      Memberitahukan akan hak dan kewajibannya sebagai peserta didik
2)      Memperhatikan kebutuhan, keinginan dan dorongan kepada peserta didik
3)      Menciptakan suasana saling pengertian, saling menghormati dan rasa keterbikaan antara guru dan peserta didik
c.       Sikap polos dan tulus dari guru
d.      Mengenal alternatif pengelolaan
1)      Melakukan tindakan identifikasi berbagai penyimpangan tingkah laku peserta didik yang sifatnya individual ataupun kelompok
2)      Mengenal berbagai pendekatan dalam manajemen kelas
3)      Mempelajari pengalaman guru-guru lainnya yang gagal atau berhasil sehingga dirinya memiliki alternatif yang bervariasi dalam menangani berbagai manajemen kelas
e.       Menciptakan kontrak sosial
2.      Usaha yang bersifat penyembuhan (kuratif)
a.       Mengidentifikasi masalah
b.      Menganalisis masalah
c.       Menilai alternatif- alternatif pemecahan
d.      Mendapatkan balikan


Tidak ada komentar:

Posting Komentar